About me

NAME: FAUZI URIP

My profil

Foto saya
tegal, jawa tengah, Indonesia

Selasa, 17 Mei 2011

Mendirikan Tiang Agama, Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khathab r.a, katanya, Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu dibangun atas lima dasar, mengakui tiada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat merupakan salah satu dari lima dasar agama Islam atau yang lebih kita kenal dengan nama rukun Islam. Shalat adalah cara kita mengingat dan menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Begitu pentingnya shalat, sampai disebut sebagai tiang agama, juga pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan serta kekafiran, namun betapa mudahnya kita meninggalkan shalat dengan berbagai alasan. Di tengah-tengah kesibukan kita, tak jarang kita menomorduakan sampai melupakan shalat, bahkan terkadang kita dengan sengaja meninggalkan shalat. Memang benar yang pernah disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa hal yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan shalat. Mungkin perlu kita ingat lagi, betapa penting shalat itu dan betapa buruk akibat dari meninggalkannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath-Thabariy).
“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu.” (HR. Tabrani).
Dari Abu Hurairah r.a., katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama-tama dihisab dari seseorang ialah shalatnya, maka jika baik shalatnya, sungguh-sungguh berbahagia dan beruntunglah ia dan jika buruk, sungguh-sungguh menyesal dan merugilah ia. Jikalau seseorang itu ada kekurangan dari sesuatu amalan wajibnya, maka Allah Azza wa jalla berfirman: “Periksalah olehmu semua – hai malaikat, apakah hambaKu itu mempunyai amalan yang sunnah.” Maka dengan amalan yang sunnah itulah ditutupnya kekurangan amalan wajibnya, kemudian cara memperhitungkan amalan-amalan lainnya itupun seperti cara memperhitungkan amalan shalat ini.” (HR. Tirmidzi).
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman: 17).
Mendirikan shalat merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengaku sebagai muslim. Karenanya, sangat penting untuk mengajarkan shalat sedari dini. Rasulullah SAW bersabda:
“Suruhlah anak-anakmu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putera-puteri).” (Abu Dawud).
Tentu saja pukulan yang dimaksud di sini bukan berarti menggunakan kekerasan pada anak, namun lebih kepada makna mendidik. Akan tetapi, hadis di atas menunjukkan bahwa shalat merupakan hal yang tidak dapat diremehkan begitu saja, sehingga harus benar-benar diajarkan dengan baik, agar anak tidak sampai melalaikan shalat.
Selain memang merupakan kewajiban dan dasar dari agama kita, sesungguhnya shalat itu bermanfaat untuk diri kita sendiri. Shalat merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah. Shalat yang dilaksanakan dengan baik akan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, mempermudah hidup kita, melapangkan hati, menjernihkan pikiran, melindungi kita dari keburukan serta membuat hidup kita dipenuhi keberkahan.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Tha-Ha: 132).
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45).
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

sumber