About me

NAME: FAUZI URIP

My profil

Foto saya
tegal, jawa tengah, Indonesia

Selasa, 17 Mei 2011

Mendirikan Tiang Agama, Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khathab r.a, katanya, Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu dibangun atas lima dasar, mengakui tiada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat merupakan salah satu dari lima dasar agama Islam atau yang lebih kita kenal dengan nama rukun Islam. Shalat adalah cara kita mengingat dan menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Begitu pentingnya shalat, sampai disebut sebagai tiang agama, juga pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan serta kekafiran, namun betapa mudahnya kita meninggalkan shalat dengan berbagai alasan. Di tengah-tengah kesibukan kita, tak jarang kita menomorduakan sampai melupakan shalat, bahkan terkadang kita dengan sengaja meninggalkan shalat. Memang benar yang pernah disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa hal yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan shalat. Mungkin perlu kita ingat lagi, betapa penting shalat itu dan betapa buruk akibat dari meninggalkannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath-Thabariy).
“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu.” (HR. Tabrani).
Dari Abu Hurairah r.a., katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama-tama dihisab dari seseorang ialah shalatnya, maka jika baik shalatnya, sungguh-sungguh berbahagia dan beruntunglah ia dan jika buruk, sungguh-sungguh menyesal dan merugilah ia. Jikalau seseorang itu ada kekurangan dari sesuatu amalan wajibnya, maka Allah Azza wa jalla berfirman: “Periksalah olehmu semua – hai malaikat, apakah hambaKu itu mempunyai amalan yang sunnah.” Maka dengan amalan yang sunnah itulah ditutupnya kekurangan amalan wajibnya, kemudian cara memperhitungkan amalan-amalan lainnya itupun seperti cara memperhitungkan amalan shalat ini.” (HR. Tirmidzi).
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman: 17).
Mendirikan shalat merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengaku sebagai muslim. Karenanya, sangat penting untuk mengajarkan shalat sedari dini. Rasulullah SAW bersabda:
“Suruhlah anak-anakmu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putera-puteri).” (Abu Dawud).
Tentu saja pukulan yang dimaksud di sini bukan berarti menggunakan kekerasan pada anak, namun lebih kepada makna mendidik. Akan tetapi, hadis di atas menunjukkan bahwa shalat merupakan hal yang tidak dapat diremehkan begitu saja, sehingga harus benar-benar diajarkan dengan baik, agar anak tidak sampai melalaikan shalat.
Selain memang merupakan kewajiban dan dasar dari agama kita, sesungguhnya shalat itu bermanfaat untuk diri kita sendiri. Shalat merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah. Shalat yang dilaksanakan dengan baik akan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, mempermudah hidup kita, melapangkan hati, menjernihkan pikiran, melindungi kita dari keburukan serta membuat hidup kita dipenuhi keberkahan.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Tha-Ha: 132).
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45).
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

sumber

Rabu, 27 April 2011

Definisi Qadha’ Dan Qadar Serta Kaitan Di Antara Keduanya

DEFENISI QADHA DAN QADAR SERTA KAITAN DI ANTARA KEDUANYA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

PERTAMA : QADAR
Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qa-dran).
Ibnu Faris berkata, “Qadara: qaaf, daal dan raa’ adalah ash-sha-hiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah: akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qadar, dan qadartusy syai’ aqdi-ruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.”
Qadar (yang diberi harakat pada huruf daal-nya) ialah: Qadha’ (kepastian) dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla dari qadha’ (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara.
Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu. Qadar itu sama dengan Qadr, semuanya bentuk jama’nya ialah Aqdaar.
Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya.
Atau: Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat ter-tentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya.
Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir)-Nya terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut.

KEDUA : QADHA’
Qadha’, menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.
Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyele-saikannya. Maknanya adalah mencipta.
Kaitan Antara Qadha’ dan Qadar
1. Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Maka Dia menjadikannya tujuh langit… .” [Fushshilat: 12]
Yakni, menciptakan semua itu.
Qadha’ dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha’. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut.
2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha’ ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya.
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha’ adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.’”
3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian sebagaimana yang telah diutarakan dalam dua pendapat sebelumnya. Jika keduanya terpisah, maka keduanya berhimpun, di mana jika salah satu dari kedunya disebutkan sendirian, maka yang lainnya masuk di dalam (pengertian)nya.
[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indonesia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]

sumber

Kamis, 31 Maret 2011

JANGAN SU 'UDZON (BURUK SANGKA) KEPADA ALLAH

“Barang siapa yang mengira lenyapnya kasih sayang Allah dari ketetapan (Qodar) Allah, maka yang seperti ini adalah karena dangkalnya pandangan iman.”

Menduga duga tentang pemberian Allah, terutama berburuk sangka kepada-Nya atas nikmat nikmat-Nya adalah perbuatan dosa. Seorang hamba dilarang menduga bahwa Allah telah mengurangi kasih sayang dan pemberian-Nya  karena sesuatu bencana yang sedang dialami oleh si hamba.

Seorang hamba hendaklah dapat merasakan pemberian Allah sebagai anugerah, maka ia pun harus dapat merasakan percobaan dari Allah itu juga suatu anugerah kasih sayang dari Allah Swt. Hikmahnya seorang hamba dalam keadaan kesusahan, atau sedang tertimpa bencana, ia akan bertambah dekat kepada Allah Swt. Dengan dekatnya si hamba kepada-Nya, maka akan berlimpahlah kasih sayang kepada si hamba. Itulah anugerah yang tak ada taranya. Orang yang keimanannya tebal, akan menerima setiap bencana, selain sebagai ujian atas keimanan, termasuk Allah menunjukkan kasih sayang dan rahmat-Nya  kepada si hamba, sebagai bukti Allah adalah Robbun (pengasuh, pendidik) bagi alam semesta dan seluruh makhluk-Nya. Nabi Muhammad Saw dalam hal ini bersabda, “Allah Ta’ala menguji seorang hamba dengan bencana.  Apabila si hamba sabar menerima, maka ia termasuk pilihan. Apabila ia ridho menerima, maka ia termasuk orang istimewa.”

Seperti diterangkan pula dalam hadits sahabat Abi Huroiroh bahwa Nabi Saw bersabda, “Tiada apapun yang menimpa seorang Mukmin berupa bencana dan menderita kesusahan, kecuali semua itu menjadi sebab untuk menghilangkan dosa dosanya.” (HR Bukhori dan Muslim). Sahabat Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan dari hadits lain, ia menyebut, Bahwasanya tiada seorang muslim pun yang tertimpa kerusakan dan penyakit, atau bencana yang lebih ringan lagi, kecuali Allah Ta’ala akan menggugurkan dosa dosanya, bagaikan gugurnya daun dari dahan pohon.”

Manusia sebagai hamba Allah dalam menjalankan hidupnya di dunia ini hendaklah jauh dari prasangka jelek kepada Allah, agar jiwanya tidak risau dan tertimpa penyakit yang dapat menegangkan syaraf. Ia harus berprasangka baik (Husnudzon      ) kepada Maha Pencipta. Ia harus penuh keyakinan bahwa Allah Ta’ala Maha Adil dan Maha Pemelihara. Allah telah
membagi rahmat-Nya kepada manusia sesuai dengan rencana Allah.

Tidak ada kebaikan yang telah dilaksanakan oleh manusia kecuali sebelumnya telah melalui ujian. Demikian juga tiada bencana yang menimpa manusia kecuali itu pun sebagai ujian. Barangsiapa yang melalui ujian Allah, maka ia berada di jalan Allah. Ia sedang berada di medan jihad. Allah ta’ala sangat menyenangi seorang hamba yang ridho menerima ujian dan cobaan serta menang dalam medan jihad. Allah mencintai dan meridhoi hamba tersebut.
Rahmat Allah yang diberikan untuk manusia bisa terjadi di dunia ini juga, dan bisa pula di tunda di akhirat. Itu akan menunjukkan kehebatan dan kekuasaan-Nya kepada manusia, bersamaan dengan itu pula Allah menunjukkan kasih sayang dan keadilan-Nya.

Ummul Mukminin Sayidah Aisya ra. meriwayatkan pula sabda junjungan Rosulullah Saw, “Barangsiapa diuji dengan beberapa kesulitan, dan ia dapat mengatasi kesulitan itu dengan ketabahan dan menerimanya dengan ikhlas, tertulis baginya di sisi Allah dengan derajat yang mulia dan dihapus dosa dosanya.”  Seorang muslim yang sholeh tidak boleh mengira dan berprasangka bahwa Allah tidak memperhatikan lagi dirinya. Karena perkiraan seperti ini adalah pandangan yang sempit dan dangkal. Seorang muslim memandang Allah tidak semata mata dari segi pemberian Allah yang jelas dan dirasakan dengan alam jasmani, akan tetapi ia harus melihat pemberian Allah dari sisi yang lain yang tidak dapat dilihat dan dinyatakan dengan mata kepala.

Ia harus melihat pemberian Allah dengan mata rohani, sehingga mampu merasakan kekayaan rohani yang dimilikinya itu adalah pemberian Allah.  Keselamatan, kesehatan, ketenangan, keyakinan iman dan banyak lagi lainnya adalah kekayaan rohani yang sangat mahal harganya. Allah Ta’ala tidak pernah melupakan hamba hamba-Nya, manusialah yang lupa kepada-Nya. Karena sedikit sekali manusia yang bersyukur kepada pencipta-Nya.

Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

Selasa, 22 Maret 2011

RAHASIA KEHIDUPAN


Berikut adalah hukum-hukum yang tersirat dan tersurat tentang rahasia kehidupan:

1. Adanya sesuatu karena adanya sebab atau proses yang mengadakannya.
Hukum sebab akibat adalah hukum alam yang menyatakan bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang mengadakan atau yang menyebabkan adanya sesuatu. Segala sesuatu tidak akan pernah ada atau terjadi tanpa adanya sebab yang mengadakan atau yang menimbulkannya.
Hukum ini jelas menyatakan bahwa segala sesuatu yang hendak kita dapatkan atau kita capai haruslah melalui sebuah proses atau sebab  untuk mencapainya.
Mengharapkan dan menginginkan terjadinya sesuatu tanpa adanya sebab dan proses untuk mencapainya merupakan kenisbian dan kemustahilan belaka.
Oleh karena itu untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan dan kita inginkan hendaklah kita harus melalui sebuah proses tuk mendapatkannya, tanpa adanya hal ini semua yang kita inginkan dan kita harapkan tak ubahnya sebuah hayalan dan impian semata yang takkan pernah terwujud dan terealisasi adanya.
2. Sesungguhnya setiap individu manusia itu pada dasarnya adalah baik.
Pernahkah kita sadari hal ini bahwa sesungguhnya setiap individu manusia itu pada dasarnya adalah baik.Dan kejahatan atau keburukan yang dilakukannya adalah karena kelalaian, kebodohan , ketidaktahuannya , serta ketidak mampuannya menahan atau mengendalikan emosi dan keinginannya.
Teori ini berdasarkan dan mengacu pada sifat dasar individu manusia yang senantiasa menginginkan kebaikan untuk dirinya .
Dan tidak ada satu orang pun individu manusia di dunia ini yang mengharapkan dan menginginkan keburukan untuk dirnya.
3. Kehidupan ini sesungguhnya senantiasa berpasang-pasangan.
Adanya siang dan malam, adanya laki-laki dan perempuan, adanya positif dan negatif, dan yang lain-lain nerupakan bukti bahwa sesungguhnya kehidupan ini sesungguhnya senantiasa berpasang pasangan. Namun banyak diantara kita yang kurang dan tidak menyadari akan adanya hal ini yang menginginkan kesamaan atau menyamakan sesuatu yang tidak sama, hal ini merupakan hal yang mustahil dan bertentangan dengan takdir yang telah Tuhan gariskan di dunia ini, Karena sesungguhnya apa yang ada didunia ini berbeda-beda tidak ada yang sama, walaupun seorang kembar sekalipun. Jadi janganlah kita berpandangan tuk menyamakan dan menyelaraskan sesuatu yang di takdirkan tidak sama, karena sama halnya menentang takdir yang telah Tuhan gariskan.
4. Siapa yang menanam maka akan menuai hasilnya.
Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya, jika kita menanam kebaikan maka akan berbuah kebaikan begitupun sebaliknya jika kita menanam keburukan maka akan berbuah keburukan.Setiap orang akan menuai hasil sesuai dan sebanding dengan apa yang telah dilakukan dan dikerjakannya, seperti halnya kalau kita menanam buah semangka tentu akan menghasilkan buah semangka , jika kita menanam daun sirih maka akan menghasilkan daun sirih, tidakmungkin jika menanam daun sirih akan berbuah semangka .
Jadi jelaslah bahwa setiap individu manusia akan menuai hasil sesuai dan sebanding dengan apa yang telah diusahakan dan dikerjakannya. Jika kita menanam keburukan akan menuai keburukan ,jika kita menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan, sesuai dan sebanding dengan apa yang dikerjakan.
5. Tiada yang sempurna dan kekal di dunia ini.
Pernahkah kita mengkaji dari kehidupan ini sesungguhnya tiada yang sempurna dan kekal didunia ini. Ada yang datang ada yang pergi, ada yang terlahir ada yang binasa , semuanya tidak ada yang sempurna , semuanya akan hancur dan binasa .Tidak ada yang sempurna di dunia ini,
begitupun diri kita manusia.
Tidak ada manusia yang sempurna, semuanya memiliki kekurangan, semuanya memiliki kelebihan, semuanya akan binasa.
6. Segala sesuatu yang berlebihan itu merugikan
Berlebihan dalam segala hal pada dasarnya akan merugikan diri kita sendiri karena sesungguhnya manusia itu serba terbatas adanya.oleh karena itu janganlah berlebihhan dalam segala hal walaupun itu dalam hal kebaikan sekalipun karena pada dasarnya akan merugikan diri kita sendiri.
7. Apa yang ada di dunia ini hanya datang sekali seumur hidupkita
Pernahkah kita menyadari sesungguhnya apa yang terjadi didunia ini hanya datang sekali dan tidak akan terulang lagi, apa yang terjadi dalam kehidupan ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup kita, oleh karena itu manfaatkan waktu sebaik mungkin, jangan sia-siakan hidup kita, berbuatlah yang terbaik dalam kehidupan ini agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Karena ingatlah dalam kehidupan ini apa yang telah terjadi takkan pernah terulang lagi.
8. Hidup adalah sebuah pilihan
Kalau kita mengkaji sesungguhnya hidup ini adalah sebuah pilihan, dimana kita harus memilih diantara dua pilihan diantara baik dan buruk , haram dan halal, jalan surga atau neraka semua tergantung diri kita untuk menentukan sebuah pilihan. Setiap pilihan yang kita pilih ,kita harus rela menerima resikonya sebagai hasil dan buahnya,karena sesungguhnya kita majikan dari kita sendiri, semuanya bergantung pada kita tuk menentukan sebuah pilihan.

sumber

Sabtu, 19 Februari 2011

Muhasabah Diri dengan Mengingat Hakikat Umur


Sahabat, semakin lama kita hidup, tidak terasa amanah umur yang kita dapat sebagai berkah dan nikmat dari Allah SWT juga semakin berkurang dengan sendirinya. Apapun cara kita menikmatinya – menjalaninya itu semata-mata tergantung cara kita mengikapi dan memperdulikan setiap kesempatan yang ada di hadapan kita, baik – buruknya ada dalam sikap terbaik kita menyikapinya.
Baiklah sahabat mari kita sedikit merenungkan kembali pemaknaan tentang umur kita.
Pertama, umur adalah karunia Allah SWT yang wajib kita syukuri dengan sungguh – sungguh dan menggunakannya dengan segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Maka, bangsiapa yang tidak menggunakannya dengan baik berarti dia sudah kufur nikmat. Naudzubillah.
Kedua, umur manusia pada hakikatnya sermakin berkurang. Manusia ketika dilahirkan sudah ditentukan rezeki, jodoh, dan umurnya sehingga semakin bertambah umur berarti jatah umur yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, akan semkain berkurang. Hanya angkanya saja yang semakin bertambah. Maka berhati-hatilah dengan umur kita. Kita harus sekuat tenaga menggunakannya seoptimal mungkin agar hidup ita penuh dengan kebahagiaan.
Ketiga, umur itu laksana pedang. Kalau kita anggap umur itu menghabiskan jatah waktu hidup di dunia ini. Jadi kalau mengacu kepada hadits, bahwa waktu itu laksana pedang, berarti umur pun laksana pedang. Artinya, setiap saat bisa membunuh kehidupan kita, jika sedetik saja kita berbuat sia-sia, Allah SWT mencabut nyawa kita, maka habislah amal kita dan tunggullah azab Allah SWT. Jadilah manusia yang senantiasa berjuang memanfaatkan umur – umur penuh amal shaleh.
Keempat, umur adalah catatan hidup manusia. Ingatlah wahai sahabatku, bahwa kita ini sedang menghitung hari. Berapa hari yang sudah digunakan untuk kebaikan amal shaleh, berapa hari yang tidak digunakan untuk amal shaleh. Sedangkan nanti diakhirat amal kita akan ditimbang. Seandainya, umur kita lebih banyak amal baiknya maka surgalah yang akan menjemput kita. Akan tetapi, jikalau amal jelek yang lebih berat maka neraka yang akan menjemputnya. Berusahalah sekuat tenaga agar hari demi hari diisi dengan amal shaleh.
Kelima, perbanyaklah istighfar. Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan dosa. Karena, memang manusia itu diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berbuat baik atau berbuat jelek. Pada dasarnya semua manusia baik dan fitrah, namun setan yang terkutuk selalu menggangu dan menyeret manusia untuk menjadi temannya kelak diakhirat. Semoga kita terhindarkan dari bujuk dan rayuan setan yang terkutuk.
Ketika manusia mengalami surut dan melakukan kejelekan dan dosa, maka segeralah meminta ampun yang sungguh-sungguh. Dalam hidup ini tidak ada yang abadi, semuanya akan rusak dan binasa. Begitu pun dengan dosa kita, sebesar apapun dosa kita, karena Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Seandainya jiwa dan hati kita gundah karena melalaikan waktu dan umur, segeralah kita minta ampunan kepada-nya.
Tidak ada kata terlambat untuk kita memperbaiki diri dan bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup. Yang paling penting sekarang adalah tekad untuk memperbaiki diri. Sebelum ajal datang kita masih bisa mengawalinya sekarang juga. Yakinlah, bahwa apa pun yeng telah diperbuat dan dirasakan hal itu merupakan kejelekan, sudah diampuni oleh Allah SWT. Optimislah sahabat :)

Sabtu, 05 Februari 2011

Keistimewaan Sedekah




Segala puji (hanya) bagi Allah, kita memuji-Nya baik dalam keadaan senang maupun susah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalla, seorang yang pernah mengalami sakit dan tertimpa cobaan. Shalawat dan salam juga semoga tercurah bagi keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi ridha terhadap taqdir Allah subhanahu wata’ala.

Pada era ini berbagai penyakit semakin menyebar dan bermacam-macam. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan tidak ditemukan obatnya, seperti kanker dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata’ala.

Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit adalah timbulnya kemaksiatan dan menceritakan maksiat yang telah diperbuat pada orang lain. Oleh karena itu penyakit tersebut menyebar di tengah masyarakat dan mencelakakan mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (Q.S asy-Syura: 30)

Di antara penyakit tersebut ada yang berupa ujian dari Allah yang ditimpahkan kepada hamba-Nya di dunia hamba tersebut merasakan penuh dengan musibah dan kesedihan, penuh dengan penyakit dan bahaya.

Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah mengetuk semua pintu dan melakukan semua sebab, namun mereka tidak menemukan pintu (hidayah) Allah subhanahu wata’ala dan sebab yang dapat menyembuhkan penyakitnya. maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa dukanya lenyap, kesedihan, dan penyakitnya dapat terobati.

Wahai orang sakit yang kepayahan, orang yang gelisah lagi kecewa, orang yang tertimpa ujian lagi sabar! Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu. Keselamatan selalu tercurah padamu, sebanyak duka nestapa, dan rintihan yang keluar dari bibirmu.

Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain tertawa, sedangkan engkau menangis. Sakitmu tidak pernah reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.

Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab, dan membuatmu terlepas dari apa yang engkau derita bertahun-tahun. Obat itu terdapat pada sabda Rasulullah subhanahu wata’ala, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Ja-mi').

Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak bersedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita. Cobalah sekarang, dan hendaknya engkau percaya bahwasanya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan rintangan, baik berupa musibah maupun cobaan. Mereka dari golongan Allah subhanahu wata’ala yang diberi taufiq oleh Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyyah dan obat ilahiyyah. Para Salafus Shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang...!!

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air di dalam sumur yang engkau gali dan menahan aliran darah di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).

Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang ibu anak-anak yatim dan Allah subhanahu wata’ala pun menyembuhkannya.

Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah, "Anak perempuan saya yang masih kecil tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya mengeluhkannya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Sakitnya tidak bisa disembuhkan. Hampir saja saya yang jatuh sakit, karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya kami memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit saja, hingga kami putus asa dari semuanya, kecuali dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang Shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’) Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Saya pun mengeluarkan sedekah secukupnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, “Engkau salah seorang yang mendapatkan nikmat dan harta yang banyak. Hendaknya engkau bersedekah sesuai dengan banyaknya hartamu.” Saya pun pergi pada kesempatan ke dua. Saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam, dan lainnya dengan menghabiskan biaya yang besar. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah, saya tidak pernah menyangka bahwa akhir suntikan yang saya berikan pada anak saya adalah suntikan yang saya berikan sebelum saya mengeluarkan sedekah itu. Anak saya sembuh total, walhamdu lillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apa pun. Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya untuk wakaf setiap saya merasakan nikmat, penuh berkah, dan sehat baik diri pribadi, harta, dan keluarga saya. Saya mewasiatkan pada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus-menerus, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.”

Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata, “Saudara laki-laki saya pernah pergi ke suatu tempat. Di tengah jalan, ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluh sakit apa pun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan, seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al-'ain (sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau pembuluh darahnya tersendat. Kami lalu membawanya ke berbagai rumah sakit dan klinik. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan rongsen. Hasilnya, kepalanya sehat-sehat saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernafas apalagi bicara. Saya lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan. Semoga saja Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu?” Ia menjawab, “Ada”. Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku cairkan dari kartu tersebut sekitar lima ribu real. Setelah itu saya menghubungi salah seorang yang Shalih yang mengenal beberapa orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. Saya bersumpah demi Allah Yang Maha Mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu mendapatkan harta titipan tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi, alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslimin agar mengobati penyakit mereka dengan sedekah.”

Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata, “Anak perempuan saya menderita sakit demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik, namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri saya berkata, “Kita akan bersedekah untuknya”. Saya lalu menghubungi seseorang yang mengenal orang-orang miskin. Saya berkata padanya, “Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu bagikanlah pada orang-orang yang membutuhkan”. Saya bersumpah demi Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita. Lima menit setelah saya menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerakkan kaki dan tangannya, bermain dan melompat di atas matras. Ia pun makan hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah subhanahu wata’ala. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah ketika tertimpa penyakit.”

Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah subhanahu wata’ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari koceknya.

Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri. Namun obatilah penyakitmu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah subhanahu wata’ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak do’a di sepertiga malam terakhir.

Sedangkan bagi anda yang diberi nikmat sehat oleh Allah subhanahu wata’ala, ja-ngan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit dulunya juga sehat, dan orang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah...! Dan segeralah bersedekah.

Syaikh Sulaiman bin Abdul Karim al-Mufarrij.